Artikel43

Jumat, 18 Agustus 2017 - Oleh admin_acehjaya

Filosofi Peusijuek
Oleh : Rafi’I,S.Hum

Kasubbag Pendataandan Dokumentasi

 

Salah satu keanekaragaman budaya dan adat istiadat masyarakat Aceh pada umumnya adalah peusijuk, dikarenakan peusijuk ini merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita, maka sampai sekarang masyarakat Aceh terus melestarikan dan melaksanakan adat pesijuk ini, filosofi yang terkandung dalam alat-alat (tempat Peusijuk):

 

  1. Talam mengandung makna bahwa orang yang dipeusijuek tetap bersatu dalam lingkungan keluarga yang ditinggalkan.
  2. Clok (calok) mengandung makna bahwa orang yang dipeusijuek itu tetap berada dalam lingkungan keluarga yang di lingkungan keluarga (persatuan) dan berhemat.
  3. Tudung saji (sangee) mengandung makna diharapkan untuk mendapatkan perlindungan dari Allah swt dari segala tipu daya yang menyesatkan.
  4. Beras padi mengandung makna bahwa orang dipeusijuek semakin tua semakin berilmu, juga merupakan makan pokok atau benih untuk menghasilkan.
  5. Tepung tawar mengandung makna bahwa tepung berwarna putih merupakan perlambang kebersihan dan kesejukan jiwa bagi orang yang dipeusijuek.
  6. On manek-mano mengandung makna bahwa sesuai dengan deretan bunga diharapkan digalang persatuan dan kesatuan serta keteraturan.
  7. On sijuek mengandung makna obat penawar/ kesejukan meresap kalbu.
  8. Naleung Samboe mengandung makna dengan sifatnya yang kokoh sulit untuk dicabut, pelambang sebagai kekokohan pendirian dan etika, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun agama.
  9. Bu leukat mengandung makna zat perekat, pelambang sebagai daya tarik untuk  tetap meresap dalam hati orang yang dipeusijuek semua ajaran dan nasihat ke jalan yang diridhai oleh Allah swt.

Referensi:
Agus Budi Wibowo Peusijuek dalam Masyarakat Aceh