Artikel27

Kamis, 08 Desember 2016 - Oleh admin_acehjaya

MEUNASAH DAN FUNGSINYA BAGI ORANG ACEH

 

Berbicara tentang meunasah berarti berbicara dan membicarakan orang Aceh. Kalau sudah terucap kata itu, adalah selalu identik sebab Aceh “tempo doeloe” sampai sekarang meunasah sangat difungsikan. Jika ada kumpulan orang Aceh di suatu tempat, tetap membangun suatu meunasah.

Meunasah sangat besar fungsi dan perannya, antara lain:

a.       Meunasah sebagai pusat pemerintahan gampong

Masyarakat gampong berada dalam satu unit komunitas masyarakat yang memiliki tatanan sosial kemasyarakatan dan membentuk suatu ikatan kehidupan masyarakat yang homogen dan menguasai kebudayaan akan kebersamaan. Kepemimpinan gampong diurus dengan hukum adat dengan memfungsikan kepemimpinan gampong yang terdiri dari Keuchik, Teungku Sago, Tuha Peuet, Tuha Lapan, dan cerdik pandai sebagai tokoh gampong.

b.      Meunasah sebagai pengayom hukum

Memfungsikan meunasah sebagai tempat musyawarah dan menjalankan proses peradilan adat untuk menyelesaikan problema-problema masyarakat yang murah, meriah, dan selesai dengan damai. “Bak Sapeue Kheun”.

c.       Meunasah berfungsi sebagai tempat pembinaan dan pengawasan

Memperankan meunasah sebagai tempat pembinaan masyarakat dengan wewenang yang telah diberikan kepada keuchik gampong dan perangkatnya. Perangkat gampong yang dipilih oleh masyarakat memberikan wewenang untuk membina dan mengawasi pekerjaan yang ada di gampong agar tertata perilaku hidup masyarakatnya dengan memfungsikan meunasah sebagai tempat pembinaannya.

 

Kesejahteraan keluarga adalah sebagai perwujudan kesejahteraan gampong. “Udep saree mate syahid”. H.Badruzzaman menjelaskan dalam bukunya “Fungsi Meunasah” bahwa meunasah sebagai tempat penyelesaian permasalahan dengan musyawarah yang menggunakan adat sebagai medianya.

“Uleue beu mate ranteng bek patah”.

Dengan memfungsikan meunasah untuk mewujudkan keseimbangan masyarakat agar betul-betul sudah diseimbangkan, antara lain berlandaskan pada azas normatif sebagai berikut.

Hasil wawancara H. Badruzzaman dengan Teungku Raja disimpulkan:

-         Yang lupa diingatkan

-         Yang menangis didiamkan

-         Yang salah dibetulkan

-         Yang kurang ditambah lagi

-         Yang pincang dipapah

-         Yang lemah dibimbing

-         Yang ganjil digenapkan

-         Yang bertengkar diredakan

 

Inilah Keuchik yang berperan dalam membina dan mengayomi masyarakat adat dengan memfungsikan meunasah sebab masyarakat Aceh dengan meunasah tidak bisa dipisahkan.

“Mate aneuk meupat jrat, gadoh adat malee raja. Wallahu A’lam

 

Calang,      Oktober 2016

Drs. H.M.Amin Yunus

Kabid Hukum Adat

MAA Aceh Jaya