Artike6

Jumat, 12 Agustus 2016 - Oleh admin_acehjaya

 

KETIKA CALON KEUCHIK DAN PEMIMPIN DIPILIH MENURUT ADAT

(Penulis : Drs. H. M. Amin Yunus)

 

Tokoh adat tempo dulu mencari kemaslahatan untuk lahirnya ketenteraman dan kesejahteraan masyarakat yang ditentukan oleh kebijakan-kebijakan. Seperti tersebut dibawah ini. Calon keuchik sebagai kepala gampong seharusnya memiliki kriteria di bawah ini:
1. Berumur 40 tahun
2. Mengetahui Syara’ Allah dan Syara’ Rasul
3. Mengetahui adat, qanun dan reusam
4. Berasal dari keturunan orang yang baik-baik
5. Orang yang mencintai dan dicintai masyarakat
6. Senang melakukan amal kebaikan
7. Benci dan menjauhi segala perbuatan mungkar
Ketujuh syarat ini harus dipenuhi oleh seorang calon keuchik. Umur minimal 40 tahun adalah usia yang matang dalam bertindak, baik cara berfikir, bersikap, dan kemampuan emosional dalam masyarakat termasuk mengurus rumah tangga.

Dianggap usia yang sudah matang, ini berpedoman pada Rasulullah Muhammad SAW, diangkat menjadi rasul (Pemimpin) pada usia 40 tahun.

Mengetahui Syara’ Allah bagi calon keuchik maksudnya harus mampu membaca Al-qur’an dan mempelajari artinya untuk bisa mengaplikasikan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Syara’ Rasul sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas yang selalu berdampingan dengan Syara’ Allah SWT agar lebih tepat pada sasaran penyelesaian suatu tugas atau perkara.

Adat, Qanun dan Reusam adalah perangkat hukum yang harus dikuasai dan dipedomani sebagai acuan dalam menjalankan roda pemerintahan gampong dan orang yang akan menjadi pemimpin nomor satu (1) di gampong berasal dari keturunan orang baik-baik, termasuk didalamnya tidak pernah berbuat mesum sebab itu perbuatan tercela dan memalukan.

Keharmonisan antara pemimpin dengan yang dipimpin (rakyat atau masyarakatnya) adalah dambaan. Pemimpin peduli kepada rakyat dan rakyat mencintainya.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang suka mengerjakan amal–amal saleh, giat dalam membangun baik fisik maupun spiritual, menghidupkan shalat berjamaah di masjid, mushalla di gampongnya, pengajian Majelis Taklim, gotong royong, kesenian dan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya, dan benci serta menjauhi segala perbuatan yang mungkar dan termasuk perbuatan yang sia-sia

Inilah tujuh (7) syarat yang perlu dimiliki bagi seseorang yang akan dan sedang bertugas sebagai keuchik yang merupakan sebagai aparat gampong. Syarat ini perlu dipadukan dengan qanun yang telah ditetapkan oleh eksekutif dan legiaslatif.

Teungku meunasah atau peutua meunasah perlu ditambah dua (2) syarat lagi sebagai peningkatan kesempurnaan karena lebih menjurus pada keagamaan. Syarat-syarat tersebut adalah :
8. Fasih membaca Al qur’an
9. Dapat melaksanakan fardhu ain dan fardhu kifayah

Peutua meunasah kegiatannya adalah membuka pengajian baik untuk anak-anak, remaja maupun dewasa putra-putri.

Sejak kecil anak-anak sudah dibekali dengan pendidikan agama, peutua meunasah berperan aktif dalam melaksanakan fardhu ain dan fardhu kifayah.

Imum syik masjid, kepala mukim, ditambah tujuh (7) syarat lagi agar ada 16 kriteria sebagai kesempurnaan persyaratan. Yaitu :
10. Berwawasan luas/panjang akal
11. Tidak bersifat tamak dan loba
12. Mencintai kaum fakir miskin
13. Bukan budak atau keturunan budak dan jelas garis keturunannya dari orang baik-baik
14. Terpercaya atau amanah
15. Dapat menjadi imam shalat jum’at
16. Dapat membaca rukun khutbah hari jum’at

Imam atau pemimpin yang dua ini harus memiliki 16 syarat atau kriteria sesuai dengan qanun Al-asyi tempo dulu yang bersumber dari Drs H.A.Rahmah Kaoy.

Pemimpin yang berwawasan luas, mempunyai pikiran yang jernih, panjang akal merupakan modal untuk selalu ada solusi dan mampu menyelesaikan segala masalah. Menjaga diri agar tidak tamak dan loba serta serakah. Selalu mengayomi fakir miskin.

Keturunan yang baik-baik adalah jelas silsilahnya serta menepati janji dan menjaga amanah. “tidak berkhianat” mampu menjadi imam shalat jum’at serta dapat memberi nasihat-nasihat dalam khutbah jum’at dan shalat dua hari raya.

Mudah-mudahan sekarang masih ada orang baik-baik seperti yang tersebut dalam kriteria ini mau dan dipilih menjadi pemimpin dan masyarakat gampong memilihnya agar menjadi baik lembaga-lembaga yang ada di gampong bila dipimpin oleh orang-orang berhati mulia seperti yang tersebut dalam kriteria ini.

Wallahu A’lam Bissawaf
(penyunting Drs.H.M. Amin Yunus, Kabid. Hukum Adat MAA Kabupaten Aceh Jaya)

 

Calang, 1 Juli 2016
Sumber : Drs. H. M. Amin Yunus